WELCOME TO JAPPY PELLOKILA HOMEPAGE
- ethos, merupakan karakter moral yang baik dan diterima oleh siapapun, ia mampu melakukan pendekatan dengan melalui cara-cara atau perilaku hidupnya yang baik dan bermartabat
- pathos, kemampuan membuka jalan untuk orang lain; mampu menyentuh perasaan dan emosi seseorang melalui teladan hidup dan kehidupan
- logos, kemampuan mengukapkan kata-kata yang mampu meyakinkan orang lain, sehingga mereka mendapat pengetahuan baru ataupun berkembang secara intelektual dan kecerdasannya DETAIL
ORIENTASI DAN DISORIENTASI : Oleh Jappy Pellokila
Orientasi yaitu tujuan [dan bertindak sesuai tujuan tersebut] yang hendak dicapai oleh seseorang, kelompok, serta kumpulan atau organisasi. Jadi, orientasi lebih luas dari sekedar tujuan [dan juga bukan tujuan akhir], karena menyangkut keseluruhan tindakan, sikap, usaha, serta berhubungan erat dengan misi dan visi yang akan [hendak] dicapai. Sedangkan, disorientasi berarti kehilangan orientasinya atau sudak tidak mempunyai orientasi. Secara sederhana, disorientasi adalah kehilangan orientasi. Disorientasi merupakan penyimpangan dari misi dan visi semula; penyimpangan yang terus menerus terjadi, dan tidak pernah ataupun sulit untuk diperbaiki, ataupun berusaha agar menjadi normal.
Orientasi dan disorientasi bagaikan dua sisi mata uang yang saling berkaitan satu sama lain. Perubahan oreintasi menjadi disorintasi dan sebaliknya dapat saja berlangsung dengan cepat serta tak terduga ataupun terencana. Dan ada banyak faktor yang mendorong sehingga terjadi perubahan tersebut.SELENGKAPNYA
PEREMPUAN oleh JAPPY PELLOKILA
Perempuan atau wanita, (Inggris, woom'-an, Ibrani, 'ishshah), sebetulnya hanya merupakan bentuk feminim dari ‘ish atau laki-laki,1 yang menunjuk pada hanya sedikit perbedaan antara manusia laki-laki dan perempuan. Namun, entah kapan dimulainya dan oleh siapa, manusia pada masa kini telah membuat begitu besar perbedaan antar dan antara keduanya. Di banyak tempat, budaya, masyarakat suku dan sub-suku, seringakali terlihat, dan terus menerus terjadi, bahwa perempuan tetap semacam menjadi ‘makhluk kelas dua' yang kehadirannya penting jika ia ada serta hadir di antara dan di samping laki-laki; namun, ia tak tak diperhitungkan jika terpisah dengan laki-laki. LENGKAPNYA
| MILLENNIUM dan ZIONISME KRISTEN: IONNES RACHMAD P.Hd Millenium berasal dari bahasa Latin "millennium" artinya "seribu tahun"; dari "mille" (seribu) dan "annus" (tahun). Dalam Wahyu 20:1-10, "Millennium" (Yunani: "khilia" = seribu; "etē" = tahun) menunjuk pada masa pemerintahan Kristus selama seribu tahun di akhir zaman. "Millennialisme" adalah pandangan atau ajaran tentang Millennium: bagaimana Millennium harus ditafsirkan, secara literalistik, harfiah, ataukah secara figuratif; apa yang menjadi isinya, dan bagaimana ini berkaitan dengan kedatangan Kristus kembali ke bumi (parousia). Millennialisme adalah pilihan dari antara pilihan-pilihan lain dalam ajaran gereja tentang akhir zaman, eskatologi (Yunani: "eskhatos" = akhir, ujung, hal-hal terakhir; dan "logos" = uraian, ajaran, pandangan, argumen). LENGKAPNYA STUDI ISLAM Oleh Prof Olaf Schuman Aspek-aspek da'wa: Seharusnya lebih baik kalau orang Islam sendiri yang menjelaskan arti dan makna da'wa untuk mereka. Oleh karena itu, saya membatasi diri pada beberapa aspek yang menurut saya merupakan aspek yang hakiki. Da'wa berarti panggilan, undangan. Yang dimaksud adalah undangan untuk mengikuti jalan yang lurus/benar (sirât mustaqîm), di mana Allah menuntun manusia melalui wahyu-Nya yang disampaikan melalui utusan-utusannya. Menyampaikan undangan Allah kepada manusia adalah tugas yang sebenarnya untuk para utusan. Hal ini sudah terkandung dalam wahyu. Seperti setiap wahyu, ia juga perlu ditafsirkan dan diaktualisasikan untuk orang-orang percaya. Dalam Islam juga, undangan tersebut terutama dialamatkan kepada individu dan - tergantung situasinya - akan menggairahkan, mengingatkan atau membimbingnya supaya ia menjadikan aturan-aturan kehidupan dari Allah yang disampaikan dalam wahyu sebagai dasar kehidupannya sendiri. Sama dengan agama Kristen, dalam Islam juga iman tidak menuntun ke dalam isolasi atau geto, melainkan ke dalam persekutuan orang-orang percaya, yaitu umma, yang menjadi teladan untuk dunia dalam melakukan yang baik dan menolak yang buruk (al-amr bi-l-ma'rûf wa-n-nahy ‘an al-munkar). ARTIKEL LENGKAP Umat Kristiani dan Umat Muslim Milenium Ke-tiga dan Tantangan Agama-agama
JESUS SEMINAR : SUDAH KETEMU? Oleh E E. SINGGIH [Menelusuri jejak Yesus dalam penelitian ‘Yesus Sejarah’ yang paling mutakhir]. JS menekankan bahwa kata-kata yang penting, bukan narasi (kecuali narasi dalam perumpamaan). Memang logis, bahwa narasi mengenai Yesus tidak mungkin berasal dari Yesus sendiri. Apa prinsip-prinsip yang membimbing mereka untuk menelusuri Yesus? Beberapa dari antaranya dapat dikemukakan ( fn 3, tidak semua): DETAIL Oleh Jappy Pellokila Berdasarkan tugas-tugas itu, pemberitaan [kerugma] atau pelayanan dan kesaksian Gereja-gereja harus menunjukkan koinonia, marturia, dan diakonia, [dan varian-variannya]. Kerugma dengan aneka dimensi itu, harus mampu membawa atau memberikan perubahan pada sasaran pemberitaan, yaitu umat manusia. Artinya, pelayanan dan kesaksian Gereja-gereja harus berdampak pada perubahan pada seseorang. Ia harus berubah secara utuh, misalnya jasmani dan rohani, perilaku hidup dan kehidupan, kualitas intelektual, pandangan maupun pola pikirnya, termasuk cara berinteraksi dengan sesama manusia dan lingkungan. Gereja tidak bisa membatasi diri dengan hanya menjalankan salah satu tugas, sambil melupakan yang lain. Semua tugas tersebut dijalankan secara simultan, dalam rangka mencapai atau menciptakan Keteraturan ciptaan yang Memuliakan TUHAN Allah. Pelayanan dan kesaksian yang mendatangakan keteraturan di masyarakat serta lingkungan hidup dan kehidupanya. Karena keteraturan itu, mereka [manusia dan alam] sama-sama memuliakan TUHAN Allah. Ini berarti, bukan hanya warga Gereja [dan gereja] yang mampu memuliakan TUHAN Allah; namun ciptaan lain pun bisa melakukan yang sama. Misalnya, jika, semua benda-benda di alam semesta bisa mengeluarkan suara, maka hasil pelayanan dan kesaksian gereja menjadikan mereka memuliakan TUHAN Allah; jika, flora di taman, kebun, sawah, ladang serta hutan bisa mengeluarkan suara, maka pelayanan dan kesaksian gereja menjadikan mereka memuliakan TUHAN Allah; demikian juga, jika semua suara dan bahasa fauna dimengerti manusia, maka karena adanya pelayanan dan kesaksian gereja, maka suara mereka akan terdengar; suara yang memuliakan TUHAN Allah. TUGAS GEREJA DALAM RANGKA MENYATAKAN TANDA-TANDA KERAJAAN ALLAH “Bapa kami yang di Surga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di Surga.” Matius 6:9-10. Bagian dari ajaran Yesus tentang doa tersebut, menunjukkan bahwa manusia [orang percaya] perlu memohon kepada TUHAN Allah agar terciptanya Kerajaan-Nya di Bumi. Permohonan itu, harus terus menerus diungkapkan sampai tergenapinya atau penggenapan Kerajaan Allah di Bumi. Oleh sebab itu, salah satu cara untuk menujukkan tanda-tanda Kerajaan Allah adalah melaui pemberitaan serta pelayanan dan kesaksian Gereja-gereja. Pemberitaan gereja yang berdiakonia, koinonia, dan marturia [diharapkan] menghasilkan dan menunjukkan tanda-tanda Kerajaan Allah di Bumi. Dan nanti, secara eskhatologis, Kerajaan tersebut akan menjadi nyata dengan Yesus Kristus sebagai Raja. Akan tetapi, tidak mudah untuk memahami makna Kerajaan Allah yang Yesus maksudkan dalam Matius 6:9-0. Jika manusia hanya memahaminya sebagai sikon kemajuan dan kesejahteraan sosial-masyarakat akibat peningkatan taraf serta kualitas hidup dan kehidupan; maka Kerajaan Allah akan berbeda untuk setiap komunitas masyarakat; mempunyai batas-batas geografis dan sosial dan budaya; dan mereka atau siapapun di luar batas-batas itu, tidak termasuk dalam Kerajaan Allah; jadi ada perbedaan antara manusia di dalam dan luar Kerajaan Allah. Jika memahami Kerajaan Allah sebagai atau hanya bersifat rohani, maka Kerajaan tersebut tanpa batas-batas geografis melainkan imajinatif serta abstrak; suasananya dapat dirasakan oleh mereka yang mengimaninya. Kerajaan Allah [atau Kerajaan Surga] berada di luar sejarah hidup dan kehidupan manusia. Atau bahkan hanya sekedar harapan imajinasi umat beragama, yang muncul karena penderitaan serta kesengsaraan hidup dan kehidupan. Pada abad pertama, Yesus memulai pelayanan dengan memberitakan bahwa, “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Mar 1:15. Orang banyak yang mendengar pemberitaan Yesus, memahami Kerajaan Allah tersebut dalam batas-batas geografis, sosial, politik, dan budaya. Hal itu terjadi karena mereka berada di bawah kekuasaan Romawi. Sebagai bangsa yang terjajah, mereka mengalami pelbagai hambatan dan penindasan. Keadaan itu, mereka mempunyai pengharapan messianis, yang mendatangkan suatu era baru, yaitu kebebasan dan kemerdekaan. Dengan itu, dalam pandangan mereka, Kerajaan Allah segera terjadi karena TUHAN Allah sendiri yang bertindak untuk membebaskan umat-Nya. Padahal, Yesus tidak membangun Kerajaan Allah, sebagaimna ada dalam harapan masyarakat pada masa itu. Akan tetapi, Ia hanya menunjukkan tanda-tanda jika Kerajaan Allah terjadi. Oleh sebab itu, kehadiran-Nya seringkali diikuti dengan, “Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kabar baik untuk orang-orang miskin,” Mat 11:5-6; setan-setan diusir, Mat 12:28-29; memberikan pengampunan dosa, Mat 9:6; menemukan yang hilang; serta memberi nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang, Luk 19:10; Mar 10:45. Ajaran-ajaran Yesus tentang Kerajaan Allah, misalnya melalui pelbagai perumpamaan dalam Matius pasal 13, Kerajaan Allah tidak akan terjadi di waktu itu [pada masa lalu, ketika Yesus masih ada secara fisik di Bumi] melainkan pada masa akan datang [di masa sekarang atau kekinian kita; ataupun masa akan datang dari era sekarang], ketika Ia datang kedua kali sebagai Raja Yang Mahakuasa. Menurut Yesus, Ia mempunyai “kuasa di Surga dan di bumi,”, Mat 28:18, oleh sebab itu, Ia mengutus pengikut-pengikut-Nya agar menjadikan semua bangsa menjadi murid-Nya sekaligus sebagai bagian [mempunyai bagian] dalam dan di Kerajaan Allah. Hal itu juga berarti bahwa, Gereja harus ikut ambil bagian menghadirkan Kerajaan Allah di Bumi. Ia mengutus umat-Nya [dan Gereja] agar memberitakan dan mewujudnyatakan Kerajaan-Nya, dan terus menerus mempunyai pengharapan pada penggenapannya ketika Ia datang kedua kali. TANGGAPAN
|
Jappy M Pellokila, lahir 26 Agustus di Kupang - Timor, Nusa Tenggara Timur. Sejak 1983, menjalani profesi sebagai pendidik dan pembimbing [guru dan dosen] agama, etika profesi, serta pengembangan kepribadian, di Cirebon, Semarang, Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Batam, Jakarta; Pernah bertugas untuk memasyarakatkan Suku Terasing di Kep Riau. Sekarang menikmati hidup dan kehidupan sebagai rakyat biasa di pelosok Jabodetabek
K A S I H OLEH JAPPY PELLOKILA AGAPE, merupakan kasih yang sejati. Di dalamnya terkandung, sabar; murah hati; tidak cemburu; tidak sombong; melakukan hal-hal yang sopan; tidak dendam; kejujuran, perhatian, mengerti, pahami dan memahami orang lain; kesetiaan; percaya; komitmen pada ucapan dan janji. Dalam hidup dan kehidupan sosial [pada masa lalu],
AGAPE, selalu membawa atau berdampak pada perdamaian, damai sejahtera, dan ketenangan. [pada saat ini, mungkinkah pada hidup dan kehidupan kekinian kita, mampukah memberlakukan AGAPE sesuai fungsinya?]
PHILIA, juga bermakna kasih, cinta sayang.PHILIA, biasanya difungsikan atau digunakan dalam hubungan sosial dan persahabatan sehari-hari; diucapkan antar sesama sahabat atau teman karib. Tapi, di dalamnya juga terkandung saling memperhatikan, keterbukaan, perhatian dan setia kawan; toleransi serta solidaritas.
|

